Tempat Pemeliharaan ikan dapat dilakukan di kolam, sawah, karamba, jaring apung, kolam/bak terpal, akuarium dll. Dalam hal pemeliharaan ikan di kolam dapat di bagi menjadi tiga yaitu pemeliharaan ikan di kolam air tenang, Kolam air deras dan kolam terpal.
Kolam Air Tenang
Ikan yang dipelihara di kolam air tenang dan biasa hidup adalah jenis ikan gurame, nila, sidat, lele, gabus.
Kolam Air tenang ini mempunyai berapa bagian diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Pematang
Pematang dibuat dengan bentuk trapesium, pematang agar tidak mudah roboh atau longsor dibuat lebar pada bagian bawahnya. Kemiringan pematang sebaiknya tidak lebih dari 45 derajat. Dalam membuat kolam pembesaran ikan kedalaman kolam yaitu sekitar 100 – 150 cm, ketinggian air kolam bisa diatur dari ketinggian 50 – 120 cm, ketinggian ini tergantung dari ukuran bibit dan padat penebaran ikan yang ditanam. Bila ikan yang dipeliharaan mulai besar maka ketinggian air kolam ini bisa ditambah menjadi 120 cm.
2. Dasar kolam
Agar kolam bisa kering dan untuk mempermudah dalam pemanenan ikan maka dasar kolam ini harus dibuat miring.Derajat Kemiringan dasar kolam ini cukup 1%, artinya tiap 100cm dasar kolam miring 1 cm. Kemiringan dasar kolam ini diarahkan kepada kowean dan caren
3. Kowean dan caren
kowean pada kolam dibuat ditengah kolam atau bisa juga dibuat dipinggir kolam budidaya ikan. Ukuran kowean 1 x 1 x 0,4 m diberi tangul keliling sehingga akan terbentuk bak di dalam kolam. Dibuatnya kowean ini berfungsi untuk menebar bibit atau menampung ikan pada saat kolam disurutkan. Caren dibuat dengan lebar 50 – 70 cm, dalamnya 25 – 30 cm. Caren berfungsi untuk menggiring ikan masuk ke kowean saat ikan di panen.
4. Saluran pemasukan dan pembuangan air
Untuk saluran pemasukan air kolam (in-let) dibuat didekat saluran utama (main-inlet), saluran masuk dan saluran air keluar (out-let) harus dibuat terpisah.
Selasa, 11 Oktober 2011
Minggu, 25 September 2011
Menuju Kawasan Konservasi lestari
Program pelestarian Kawasan Konservasi Perairan (KKP) sebenarnya sudah lama menjadi perhatian pemerintah. Bekerjasama dengan beberapa lembaga seperti NOAA, CTI (Coral Triangle Initiative), KKJI (Kawasan Konservasi dan Jenis Ikan), pemerintah melaksanakan program-program pelatihan baik bagi masyarakat maupun petugas2 dengan harapan dengan semakin bertambahnya ilmu maka akan semakin besar pula harapan untuk dapat melestarikan wilayah-wilayah konservasi.
Dalam rangka mendukung program ini, BPPP Aertembaga melaksanakan pelatihan MPA (Marine Protected Area) bagi para nelayan yang berlokasi di kawasan konservasi, pelatihan yang berlangsung selama 6 (enam) hari kalender terhitung dari tanggal 8 s.d 13 Agustus 2011 ini di hadiri oleh Bpk. Drs. Riyanto Basuki., M.Si selaku wakil dari KKJI (Ditjen KP3K), Kepala BPPP Aertembaga, Bpk. Pola S.T. Panjaitan., A.Pi., MM yang sekaligus membuka pelatihan ini, serta para fasilitator dari IPB, Bpk. DR. Ir. M. Fedi. A.Sondita., M.Sc, dari Unsrat, Bpk. Ir. Hermanto W.K. Manengkey., M.Si, serta dari APB ,Bpk. Daniel Heintje Ndahwali., S.Pi., M.Si.dan dari Balai Diklat Perikanan Aertembaga.
Dalam sambutannya Bpk. Drs. Riyanto Basuki., M.Si mengatakan bahwa Area Kawasan Konservasi Perairan yang kita miliki merupakan area berkembangbiaknya ikan-ikan. Jadi jika kita memanfaatkan daerah tersebut,kita harus menata daerah tersebut agar tetap lestari dan ikan –ikan bias berkembangbiak dengan baik. Dalam konservasi pengelolaan yang baik adalah menjadi fungsi utama, dimana kita mengetahui bersama bahwa dulunya kita pernah mengalami mencari ikan dengan mengunakan racun atau bom. Hal itu sangatlah fatal akibatnya untuk kelanjutan kehidupan laut, berangkat dari
Hal itu, maka muncullah opini kenapa Konservasi itu perlu. Di akhir sambutannya Beliau menambahkan bahwa Konservasi memiliki konsepsi atau pemikiran bagaimana kita bias mengembangkan daerah atau kawasan kita dengan baik.Jadi marilah kita jaga kawasan konservasi kita. Ditambahkan pula oleh Kepala Balai Diklat Perikanan Aertembaga bahwa harapan kedepan dari pemerintah dengan adanya pelatihan MPA Tingkat Dasar semacam ini bias bermanfaaat dalam mendukung usaha peserta dalam rangka mendukung program pemerintah dengan memberikan kontribusi nyata dari hasil usahanya.
Beliau juga mengatakan bahwa pemerintah selalu mencanangkan program bagaimana membuat masyarakat menjadi sejahtera. Hal ini juga tertuang dalam misi Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu mensejahterakan masyarakat perikanan, yang menunjang visi untuk menjadikan Indonesia sebagai penghasil perikanan terbesar tahun 2015, dimana didalamnya melibatkan masyarakat. Oleh karena itu di perlukan persiapan SDM yang terampil karena program dan anggaran saja tidak akan berjalan baik tanpa di dukung SDM yang berkualitas. Pelatihan ini sekaligus merupakan kesempatan yg diberikan kepada peserta untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikapnya.
Di akhir sambutannya kepala Balai Diklat Perikanan Aertembaga menyampaikan harapannya agar kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mendukung misi Kementerian Kelautan dan Perikanan sehingga apa yang diberikan benar- benar bias terealisasi dengan memberikan kontribusi secara nyata kepada pemerintah dan masyarakat.
Partisipasi peserta sangat besar selama pelatihan berlangsung, dari setiap sesi pembelajaran selalu mendapatkan respon yang cukup baik dari peserta, bahkan salah seorang peserta Bapak. Benyamin dari Kab. Bolaangan Mongondow Utara sempat mengatakan bahwa beliau sangat senang dan bangga sekali dapat ikut pelatihan semacam ini karena melalui pelatihan ini banyak hal-hal baru yang membuka mata mereka, dimana selama ini mereka benar-benar buta akan masalah konservasi.
Sistem atau metode pembelajaran tidak hanya didalam kelas, namun juga terjadi diluar kelas dengan adanya kegiatan Field Trip ke Bunaken. Kegiatan kunjungan lapangan ini dimaksudkan untuk menambah wawasan serta untuk membandingkan dan mempraktekkan secara langsung ilmu-ilmu atau pengetahuan yang didapat selama proses pembelajaran.
Pelatihan ditutup pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus 2011 oleh yang mewakili Kepala Balai Diklat Perikanan Aertembaga Kasi Program, Dra.Elsye S.Roring, yang dalam sambutannya Beliau mengucapkan rasa syukurnya karena pelatihan selama 6 (enam) hari ini dapat berjalan lancar, dan berharap walaupun pelatihan ini sudah selesai, peserta tetap terus berusaha dan mempraktekkan apa yang sudah didapat, karena materi-materi yang sudah diberikan oleh para fasilitator sangatlah bermanfaat bagi peserta. Diakhir sambutannya beliau mengharapkan agar pelatihan ini juga dapat membentuk sikap dari para peserta untuk lebih peduli terhadap kelestarian Kawasan Konservasi Perairan. Jadi setelah ilmu dan keterampilan didapat, diharapkan pula adanya perubahan sikap dari para peserta untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.
sumber: Humas BPPP Aertembaga
Dalam rangka mendukung program ini, BPPP Aertembaga melaksanakan pelatihan MPA (Marine Protected Area) bagi para nelayan yang berlokasi di kawasan konservasi, pelatihan yang berlangsung selama 6 (enam) hari kalender terhitung dari tanggal 8 s.d 13 Agustus 2011 ini di hadiri oleh Bpk. Drs. Riyanto Basuki., M.Si selaku wakil dari KKJI (Ditjen KP3K), Kepala BPPP Aertembaga, Bpk. Pola S.T. Panjaitan., A.Pi., MM yang sekaligus membuka pelatihan ini, serta para fasilitator dari IPB, Bpk. DR. Ir. M. Fedi. A.Sondita., M.Sc, dari Unsrat, Bpk. Ir. Hermanto W.K. Manengkey., M.Si, serta dari APB ,Bpk. Daniel Heintje Ndahwali., S.Pi., M.Si.dan dari Balai Diklat Perikanan Aertembaga.
Dalam sambutannya Bpk. Drs. Riyanto Basuki., M.Si mengatakan bahwa Area Kawasan Konservasi Perairan yang kita miliki merupakan area berkembangbiaknya ikan-ikan. Jadi jika kita memanfaatkan daerah tersebut,kita harus menata daerah tersebut agar tetap lestari dan ikan –ikan bias berkembangbiak dengan baik. Dalam konservasi pengelolaan yang baik adalah menjadi fungsi utama, dimana kita mengetahui bersama bahwa dulunya kita pernah mengalami mencari ikan dengan mengunakan racun atau bom. Hal itu sangatlah fatal akibatnya untuk kelanjutan kehidupan laut, berangkat dari
Hal itu, maka muncullah opini kenapa Konservasi itu perlu. Di akhir sambutannya Beliau menambahkan bahwa Konservasi memiliki konsepsi atau pemikiran bagaimana kita bias mengembangkan daerah atau kawasan kita dengan baik.Jadi marilah kita jaga kawasan konservasi kita. Ditambahkan pula oleh Kepala Balai Diklat Perikanan Aertembaga bahwa harapan kedepan dari pemerintah dengan adanya pelatihan MPA Tingkat Dasar semacam ini bias bermanfaaat dalam mendukung usaha peserta dalam rangka mendukung program pemerintah dengan memberikan kontribusi nyata dari hasil usahanya.
Beliau juga mengatakan bahwa pemerintah selalu mencanangkan program bagaimana membuat masyarakat menjadi sejahtera. Hal ini juga tertuang dalam misi Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu mensejahterakan masyarakat perikanan, yang menunjang visi untuk menjadikan Indonesia sebagai penghasil perikanan terbesar tahun 2015, dimana didalamnya melibatkan masyarakat. Oleh karena itu di perlukan persiapan SDM yang terampil karena program dan anggaran saja tidak akan berjalan baik tanpa di dukung SDM yang berkualitas. Pelatihan ini sekaligus merupakan kesempatan yg diberikan kepada peserta untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikapnya.
Di akhir sambutannya kepala Balai Diklat Perikanan Aertembaga menyampaikan harapannya agar kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mendukung misi Kementerian Kelautan dan Perikanan sehingga apa yang diberikan benar- benar bias terealisasi dengan memberikan kontribusi secara nyata kepada pemerintah dan masyarakat.
Partisipasi peserta sangat besar selama pelatihan berlangsung, dari setiap sesi pembelajaran selalu mendapatkan respon yang cukup baik dari peserta, bahkan salah seorang peserta Bapak. Benyamin dari Kab. Bolaangan Mongondow Utara sempat mengatakan bahwa beliau sangat senang dan bangga sekali dapat ikut pelatihan semacam ini karena melalui pelatihan ini banyak hal-hal baru yang membuka mata mereka, dimana selama ini mereka benar-benar buta akan masalah konservasi.
Sistem atau metode pembelajaran tidak hanya didalam kelas, namun juga terjadi diluar kelas dengan adanya kegiatan Field Trip ke Bunaken. Kegiatan kunjungan lapangan ini dimaksudkan untuk menambah wawasan serta untuk membandingkan dan mempraktekkan secara langsung ilmu-ilmu atau pengetahuan yang didapat selama proses pembelajaran.
Pelatihan ditutup pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus 2011 oleh yang mewakili Kepala Balai Diklat Perikanan Aertembaga Kasi Program, Dra.Elsye S.Roring, yang dalam sambutannya Beliau mengucapkan rasa syukurnya karena pelatihan selama 6 (enam) hari ini dapat berjalan lancar, dan berharap walaupun pelatihan ini sudah selesai, peserta tetap terus berusaha dan mempraktekkan apa yang sudah didapat, karena materi-materi yang sudah diberikan oleh para fasilitator sangatlah bermanfaat bagi peserta. Diakhir sambutannya beliau mengharapkan agar pelatihan ini juga dapat membentuk sikap dari para peserta untuk lebih peduli terhadap kelestarian Kawasan Konservasi Perairan. Jadi setelah ilmu dan keterampilan didapat, diharapkan pula adanya perubahan sikap dari para peserta untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.
sumber: Humas BPPP Aertembaga
Pengolahan Pindang Bangkitkan Usaha Kecil
Pemerintah akan terus mendorong pengembangan industri pengolahan ikan pindang. Komoditas perikanan ini terbukti berhasil menggerakkan usaha kecil di seluruh Indonesia. Ikan pindang khas produk dalam negeri. Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Victor PH Nikiju-luw menyajikan, produk ikan pindang perlu mendapatkan apresiasi yang lebih besar.
Pemindangan ikan adalah teknik pengolahan dan pengawetan ikan dengan cara direbus dan diberi sedikit garam. Victor menjelaskan, ikan asap dan ikan asin banyak juga dimiliki negara lain. Di Eropa, misalnya, ada yang namanya smoke salmon. Sama halnya garam tidak hanya ditemukan di Indonesia, tetapi di Timur Tengah. "Hanya pindang yang tidak ada di negara lain, murni milik Indonesia. Terlebih hampir seluruh industri pengolahan pindang adalah usaha kecil menengah," ungkap Victor disela Pameran Produk Bahari 2011dan Pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Pindang Dean Indonesia (Appikando) di Surabaya, Rabu (21/9). Saat ini, sambung dia. dari total produksi ikan secara nasional yang mencapai 11 juta ton per tahun, 15% dikelola menjadi ikan pindang. Dari jumlah itu, yang dikelola menjadi pindang mencapai 15% hingga 20%-nya, atau sekitar 2 juta ton per tahun, baik dari ikan tongkol, bandeng, ataupun cakalang. Adapun produksinya sejauh ini mencapai sekitar 18.000 ton per bulan.
Dengan asumsi jumlah pemindang di seluruh Indonesia mencapai 60.000 orang. Selain itu, jumlah pelaku usaha pemindangan secara nasional juga terus bertambah hingga mencapai sekitar 60.000 unit dari 100.000 unit usaha kecil pengolahan ikan. Sedangkan sisanya adalah pembuatan kerupuk, bakso ikan, abon ikan, dan lain sebagainya. "Pindang ini mempunyai kekuatan di UKM. Sehingga peningkatan taraf kerja industri pengolahan ikan pindang sama hal-nya mendorong UKM untuk bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi agar bisa menembus pasar ekspor," tandasnya. Ke depan, Victor berharap pengolahan pindang perlu ditingkatkan. Karena selama ini proses produksinya dengan cara tradisional yang kurang efektif.
Padahal jika dikembangkan menjadi lebih baik, hal itu sangat terbuka lebar. Mengingat pasarnya juga sangat luas sementara potensi juga sangat besar. "Kami berharap pemindangan akan semakin besar dengan adanya peningkatan teknologi tepat guna. Sebab, selama ini proses pemindangan dilakukan dengan cara tradisional," tekannya. Saat ini. kata Victor, sedang dikembangkan proses pemindangan yang lebih baik dan lebih higienis. Yaitu dengan mengasapkan ikan yang sudah direbus tersebut. Hasilnya, pindang akan lebih lama bertahan dan akan menjadi lebih bagus. "Dengan peningkatan kualitas, saya yakin kinerjanya akan menjadi semakin membaik," pungkasnya, (ros)
Sumber: InvestorDailyIndonesia
Pemindangan ikan adalah teknik pengolahan dan pengawetan ikan dengan cara direbus dan diberi sedikit garam. Victor menjelaskan, ikan asap dan ikan asin banyak juga dimiliki negara lain. Di Eropa, misalnya, ada yang namanya smoke salmon. Sama halnya garam tidak hanya ditemukan di Indonesia, tetapi di Timur Tengah. "Hanya pindang yang tidak ada di negara lain, murni milik Indonesia. Terlebih hampir seluruh industri pengolahan pindang adalah usaha kecil menengah," ungkap Victor disela Pameran Produk Bahari 2011dan Pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Pindang Dean Indonesia (Appikando) di Surabaya, Rabu (21/9). Saat ini, sambung dia. dari total produksi ikan secara nasional yang mencapai 11 juta ton per tahun, 15% dikelola menjadi ikan pindang. Dari jumlah itu, yang dikelola menjadi pindang mencapai 15% hingga 20%-nya, atau sekitar 2 juta ton per tahun, baik dari ikan tongkol, bandeng, ataupun cakalang. Adapun produksinya sejauh ini mencapai sekitar 18.000 ton per bulan.
Dengan asumsi jumlah pemindang di seluruh Indonesia mencapai 60.000 orang. Selain itu, jumlah pelaku usaha pemindangan secara nasional juga terus bertambah hingga mencapai sekitar 60.000 unit dari 100.000 unit usaha kecil pengolahan ikan. Sedangkan sisanya adalah pembuatan kerupuk, bakso ikan, abon ikan, dan lain sebagainya. "Pindang ini mempunyai kekuatan di UKM. Sehingga peningkatan taraf kerja industri pengolahan ikan pindang sama hal-nya mendorong UKM untuk bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi agar bisa menembus pasar ekspor," tandasnya. Ke depan, Victor berharap pengolahan pindang perlu ditingkatkan. Karena selama ini proses produksinya dengan cara tradisional yang kurang efektif.
Padahal jika dikembangkan menjadi lebih baik, hal itu sangat terbuka lebar. Mengingat pasarnya juga sangat luas sementara potensi juga sangat besar. "Kami berharap pemindangan akan semakin besar dengan adanya peningkatan teknologi tepat guna. Sebab, selama ini proses pemindangan dilakukan dengan cara tradisional," tekannya. Saat ini. kata Victor, sedang dikembangkan proses pemindangan yang lebih baik dan lebih higienis. Yaitu dengan mengasapkan ikan yang sudah direbus tersebut. Hasilnya, pindang akan lebih lama bertahan dan akan menjadi lebih bagus. "Dengan peningkatan kualitas, saya yakin kinerjanya akan menjadi semakin membaik," pungkasnya, (ros)
Sumber: InvestorDailyIndonesia
Macrobranchium White Tail Disease (Penyakit Ekor Putih Pada Udang Galah)
Penyebab : Macrobrachium rosenbergii nodavirus (MrNV) dan extra small virus (XSV)
Bio – Ekologi Patogen :
• Inang penyakit sangat species spesifik yaitu udang galah (Macrobrachium rosenbergii)
• Keganasan: tinggi, dalam tempo 2-3 hari mematikan 100% populasi di perbenihan.
• Melalui infeksi buatan pada PL, gejala klinis dan mortalitas yang terjadi sama dengan infeksi alamiah; sedangkan pada udang dewasa, bagian sepalotorak lembek diikuti munculnya struktur dua kantung yang menggembung berisi cairan di kanan-kiri hepatopancreas.
• Gejala klinis yang sama, menyerupai branchiostegite blister disease (BBD) yang diikuti dengan kematian dilaporkan terjadi pada kolam pembesaran udang galah.
• Distribusi: India dan Asia Tenggara (Thailand).
Gejala Klinis
• Lemah, anorexia dan memutih pada otot abdominal pada PL.
• Kondisi tersebut secara bertahap meluas ke dua sisi sehingga mengakibatkan degenerasi telson dan uropod.
• Warna keputihan pada ekor merupakan gejala klinis yang definitif, sehingga disebut penyakit ekor putih.
• Warna kehitaman (melanisasi) akan mengembang ke 2 sisi (anterior & posterior) dan menunjukkan degenerasi dari telson dan uropod
Diagnosa :
• Polymerase Chain Reaction (PCR)
• In situ hybridization
Pengendalian
• Tindakan karantina terhadap calon induk dan larva udang galah yang baru
• Hanya menggunakan induk dan benih yang bebas MrNV dan XSV.
• Menjaga status kesehatan udang agar selalu prima melalui pemberian pakan yang tepat jumlah dan mute
• Menjaga kualitas lingkungan budidaya agar tidak menimbulkan stress bagi udang
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan
Bio – Ekologi Patogen :
• Inang penyakit sangat species spesifik yaitu udang galah (Macrobrachium rosenbergii)
• Keganasan: tinggi, dalam tempo 2-3 hari mematikan 100% populasi di perbenihan.
• Melalui infeksi buatan pada PL, gejala klinis dan mortalitas yang terjadi sama dengan infeksi alamiah; sedangkan pada udang dewasa, bagian sepalotorak lembek diikuti munculnya struktur dua kantung yang menggembung berisi cairan di kanan-kiri hepatopancreas.
• Gejala klinis yang sama, menyerupai branchiostegite blister disease (BBD) yang diikuti dengan kematian dilaporkan terjadi pada kolam pembesaran udang galah.
• Distribusi: India dan Asia Tenggara (Thailand).
Gejala Klinis
• Lemah, anorexia dan memutih pada otot abdominal pada PL.
• Kondisi tersebut secara bertahap meluas ke dua sisi sehingga mengakibatkan degenerasi telson dan uropod.
• Warna keputihan pada ekor merupakan gejala klinis yang definitif, sehingga disebut penyakit ekor putih.
• Warna kehitaman (melanisasi) akan mengembang ke 2 sisi (anterior & posterior) dan menunjukkan degenerasi dari telson dan uropod
Diagnosa :
• Polymerase Chain Reaction (PCR)
• In situ hybridization
Pengendalian
• Tindakan karantina terhadap calon induk dan larva udang galah yang baru
• Hanya menggunakan induk dan benih yang bebas MrNV dan XSV.
• Menjaga status kesehatan udang agar selalu prima melalui pemberian pakan yang tepat jumlah dan mute
• Menjaga kualitas lingkungan budidaya agar tidak menimbulkan stress bagi udang
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan
Langganan:
Postingan (Atom)